PATOLOGI KEBIJAKAN PUBLIK

Kenapa birokrasi ala weberian yaitu rational-administrative model , memiliki potensi menciptakan banyak patologi?

Perlu diketahui karakteristik utama dari birokrasi weberian yaitu antara lain :

1. Hirarki dalam kewenangan

Dalam hirarki kewenangan memiliki potensi terciptanya patologi birokrasi antara lain :

-          Ketika kewenangan yang hirarki ini diterapkan dengan sepenuhnya maka akan ada kesempatan atau potensi terciptanya patologi kesewenang-wenangan dari atasan, bagaimana hal tersebut dibuktikan dengan adanya kasus “pegawai titipan” dari atasan di kantor yang yang berada di bawah garis hirarkinya. Sehingga bawahan yang hanya menerima perintah untuk menerima tidak bisa atau tidak memiliki kuasa untuk menolak.

-          Dalam proses penyelesaian masalah seringkali yang dilakukan atasan untuk menyelesaikannya hanya menerima laporan dari bawahan tanpa melihat sedikit bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan, sehingga terkadang keputusan yang diambil bisa saja menggunakan data yang tidak valid dan bisa merugikan banyak pihak terutama untuk proses kegiatan melayani masyarakt.

-          Terciptanya proses social yang disebut ABS (Asal Bapak Senang)[1], proses ini tercipta karena adanya hirarki, ketika melaksanakan perintah maka tidak sepenuh hati bahkan bisa sangat buruk kualitas kinerjanya kecuali berada di depan sang atasan, kemudian yang dilakukan senantiasa mengikuti kehendak sang atasan tanpa melihat akibat atau kualitas apa yang akan dihasilkan.

-          Lamanya proses pelaksanaan untuk pengajuan surat atau apapun yang berhubungan dengan proses administrasi yang diajukan oleh masyarakat, dan bisa cepat dan segera mendapatkan izin untuk diproses bila ada “uang pelicin”.

2. Pembagian kerja yang sistematis dan spesifikasi pekerjaan jelas

Hal ini seringkali menjadi ladang patologi karena bersikap berlebihan dalam mematuhi aturan, terutama ketika mengurusi urusan masyarakat kecil. Seperti ketika juru ketik surat sedang tidak berada ditempat atau izin maka petugas lapangan atau birokrat akar rumput akan mengatakan suratnya tidak bisa bisa diambil sekarang karena juru ketik tidak hadir, idealnya apa yang menjadi masalah andai hanya mengetik surat yang sudah ada contohnya dan terkadang hanya untuk mengisi biodata sang pemohon surat namun keengganan karena merasa itu bukan tuganya membuat petugas tidak mau untuk menggantikan.

3. Impersonal

Pada kenyataannya system birokrasi yang terjadi dan berlaku impersonal tidaklah ada bahkan sangat kecil kemungkinan hal ini terjadi terutama di Indonesia yang budaya birokrasinya sangat buruk, hubungan antara atasan dan bawahan bukanlah sekedar hubungan impersonal atau profesionalitas di kantor tetapi tidak terhingga, mulai dari hubungan social keseharian hingga kegiatan apapun yang dilakukan bersama atasan akan sangat ditentukan oleh proses personalitas atau hubungan yang tidak rasional, sehingga atasan akan senantiasa menjadi atasan walaupun tidak sedang berada pada lingkungan kantor yang menjadi wewenang sang atasan.

4. Rekruitmen pegawai dilakukan dengan indikator atau determinan obyektif

Rekruitmen pegawai tentunya sudah memiliki prosedur yang sangat ketat, dimulai dari test hingga berbagai proses tambahan lainnya, namun hal tersebut tidaklah menutup kemungkinan untuk terciptanya patologi birokrasi terutama di daerah-daerah. Ketika memiliki saudara, kerabat atau hanya kenalan yang berada pasa sauatu instansi pemerintahan maka itu sudah menjadi modal besar untuk bisa menjadi pegawai minimal menjadi pegawai honorer. Ketika proses tersebut terjadi tidak akan menjadi masalah apabila seperti penjelasan dikarateristik pertama yaitu “pegawai titipan” tersebut memiliki kapasitas atau kompetensi yang mumpuni dan memeang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan namun apabila tidak maka hanya akan menambah anggaran belanja untuk gaji pegawai tanpa ada hasil dari sang pegawai.

5. Sistem promosi berbasis senioritas dan keahlian

Kelihatannya ini tidaklah mengandung patologi, namun pada kenyataannya karakteristik ini juga memiliki potensi terciptanya patologi birokrasi. Para pegawai yang telah lama bekerja dan selalu mengikuti perintah akan lebih dihargai dan dipercepat prose kenaikan pangkatnya daripada pegawai yang memiliki kapasitas dan kompetensi yang lebih baik namun sering tidak setuju dengan sikap atasan yang sering sewenang-wenang dalam memberi perintah bahkan tidak sesuai aturan atau bahkan melanggar peraturan yang berlaku untuk hal yang buruk. Sehingga secara rasional dan baiknya tentu sang pegawai seharusnya bisa meningkat karirnya apabila berkerja sesuai aturan atau bersikap benar-benar untuk meningkatkan kualitas pelayanan namun tidak untuk para atasan yang takut apabila karir bawahannya cepat naik.

6. Sistem dan prosedural yang jelas

Pada satu sisi tentu hal ini sangat baik, namun jangan disangka ini tidak memiliki potensi patologi birokrasi. Ketika sistem dan prosedural yang sudah jelas namun tidak dietahui oleh masyarakat maka bisa saja hal tersebut akan menjadi permainan para pemangku jabatan di kantor-kantor pelayanan masyarakat, belum lagi dengan kekakuan dari system birokrasi sehingga tidak menguntungkan msyarakat yang memiliki hak dari pelayanan negara.


[1] Urul, bahrum, 2008, Makalah Tinjauan Penyakit Birokrasi dari Sisi Teori Organisasi, tidak diterbitkan : Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Jendral Soedirman Purwokerto

About these ads

Silahkan berkomentar, yang sopan ya..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s